Kota Balikpapan


Balikpapan adalah salah satu kota di Kalimantan Timur (Kaltim), Indonesia.
Balikpapan memiliki penduduk sebanyak 701.066 jiwa[6] , yang merupakan 22 %
dari keseluruhan penduduk Kaltim. Balikpapan merupakan kota dengan biaya hidup
termahal se-Indonesia. [7][8] Logo dari kota yang sering disebut Kota Minyak
( Banua Patra) dan Bumi Manuntung ini adalah beruang madu , maskot Balikpapan
yang mulai di ambang kepunahan. Nama asli Balikpapan adalah Billipapan [9][10]
atau Balikkappan [11] (logat Banjar).

250px-balikpapan-location.png
Peta lokasi Kota Balikpapan

Koordinat : 1°8′56″LU 116°54′11″BT / 1,14889°LS
116,90306°BT

Provinsi Kalimantan Timur

Hari jadi 10 Februari 1897

Dasar hukum UU RI No. 27 Thn. 1959

Pemerintahan

– Wali kota Rizal Effendi

– APBD Rp 1,27 triliun (2007) [2]

– DAU Rp 268.135.688.000,- (2011) [3]
Luas 503,3 km²

Populasi

– Total 701.066 (28 Nopember 2014)

– Kepadatan 1.360/km² ( tertinggi di Kaltim)

Demografi

– Bahasa Indonesia , Jawa, Kutai, Paser ,
Banjar [5]

– Zona waktu WITA (UTC+8)

– Kode area

telepon

+62542

– Bandar udara Bandar Udara Sultan Aji Muhammad
Sulaiman

Pembagian administratif

– Kecamatan 6

– Kelurahan 34

– Fauna resmi Beruang madu

250px-balikpapan-compilat.png
Dari kiri atas searah jarum jam: Bandar Udara Sultan

Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan Sport and

Convention Center, Taman Bekapai, Kawasan Kilang

Minyak Pertamina , Jalan Jenderal Sudirman.

Sejarah

Asal usul nama Balikpapan

Ada beberapa hikayat populer yang menceritakan asal usul kota yang berada di

pesisir timur Kalimantan ini, yaitu: [12][13]
Adanya 10 keping papan yang kembali ke Jenebora dari
1.000 keping yang
diminta oleh Sultan Kutai sebagai sumbangan bahan bangunan untuk
pembangunan Istana Baru Kutai Lama. Kesepuluh papan yang balik tersebut
disebut oleh orang Kutai Balikpapan Tu . Sehingga wilayah sepanjang Teluk
Balikpapan , tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan. [14]

Suku Pasir Balik (suku asli Balikpapan) adalah keturunan kakek dan nenek
bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang Teluk
Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan atau artinya Balikpapan
(dalam bahasa Paser, Kuleng artinya Balik).
Dalam legenda lain juga disebutkan asal usul Balikpapan, yaitu dari seorang
putri yang dilepas oleh ayahnya seorang raja yang tidak ingin putrinya tersebut
jatuh ke tangan musuh.
Sang putri yang masih balita diikat di atas beberapa
keping papan dalam keadaan terbaring. Karena terbawa arus dan diterpa
gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar di tepi pantai
ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata terdapat seorang putri
yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri tersebut bernama Putri Petung
yang berasal dari Kerajaan Pasir.
Sehingga daerah tempat ditemukannya
dinamakan Balikpapan.

Hari jadi kota Balikpapan adalah tanggal 10 Februari 1897. Penetapan tanggal
ini merupakan hasil Seminar Sejarah Balikpapan pada tanggal 1 Desember 1984 .

Tanggal 10 Februari 1897 ini adalah tanggal pengeboran minyak pertama di
Balikpapan yang dilakukan oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi dari pasal-
pasal kerjasama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan Co.
[15]

Kesultanan Kutai

Daerah Balikpapan dan Balikpapan Seberang ( Penajam ) merupakan bagian dari
wilayah negara dependen Kesultanan Kutai. [16][17][18] Tahun 1942 Penajam
termasuk dalam wilayah Balikpapan. [19] Sejak sekitar tahun 1636 , Kalimantan
pada umumnya termasuk negara bagian Kutai, negara bagian Paser dan negara
bagian Berau diklaim sebagai wilayah mandala negara Kesultanan Banjarmasin .[20]

Pada 13 Agustus 1787 , Sunan Nata Alam telah menyerahkan kedaulatannya atas
sebagian besar Kalimantan kepada perusahaan VOC, yang kemudian diperbarui lagi
pada tanggal 4 Mei 1826 di masa Sultan Adam. Setelah itu Kalimantan pada
umumnya menjadi wilayah negara Hindia Belanda .
Tahun 1844 , bekas negara
bagian Kutai secara resmi mendapat pengakuan sebagai negara dependensi di
dalam negara Hindia Belanda. [21] Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië
tahun 1849, Kutai termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van
den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie , pada 27
Agustus 1849, No. 8[22] Tahun 1855, Kutai merupakan sebagian dari de zuid- en
oosterafdeeling van Borneo yang beribukota di Banjarmasin. [23]

Hindia Belanda
Dengan ditemukannya sumber-sumber minyak di daerah Balikpapan dan daerah
sekitarnya ( Samboja, Sanga-Sanga dan Muara Badak ), pemerintah Hindia Belanda
akhirnya membeli wilayah ini dari Sultan Kutai Kertanegara serta dibangun untuk
mendukung usaha-usaha pertambangan khususnya perminyakan dengan
mendirikan kilang minyak, kantor operasi serta perumahan pegawai (sisa-sisa
usaha pembangunan Hindia Belanda dapat dilihat dari pemukiman para staf
Pertamina ).
Aktivitas perminyakan ini juga membantu perpindahan penduduk
terutama para pekerja dari Jawa, serta dari berbagai daerah. Saat itu perusahaan
minyak yang dikenal adalah BPM , Shell dan KPM . Wilayah Balikpapan pada tahun
1930 itu meliputi Balikpapan Seberang (Penajam). [24]
Pendudukan Jepang
Pada masa Perang Dunia II, Jepang mengincar wilayah ini sebagai batu loncatan
mengadakan serangan ke Jawa.
Pada tanggal 23 Januari 1942 , armada Jepang
dibawah pimpinan Shizuo Sakaguchi merebut Balikpapan dari tangan pasukan
Sekutu dan Hindia Belanda . [25][26] Wilayah Balikpapan saat itu meliputi
Balikpapan Seberang (Penajam). [27] Nilai strategis kota Balikpapan juga
diperhitungkan tentara sekutu, pada tahun 1945 tentara sekutu di bawah komando
Australia merebut kota ini dari tangan Jepang pada pertempuran 26 Juni -15 Juli
1945 dalam usaha merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan Jepang. [28][29]
[30][31]

Republik Indonesia

Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia agak terlambat sampai
di kota ini, sekitar tahun 1945- 1946 melalui pekerja BPM yang datang dari Jawa
dalam rangka rehabilitasi kilang minyak yang hancur akibat perang yang
dilanjutkan dengan pernyataan rakyat di Lapangan FONI .
Namun karena Belanda
berniat menguasai kembali kota ini maka terjadi peperangan yang berlanjut sampai
pada pertempuran Sangatta. Pada masa pengakuan kedaulatan tahun 1949 ,
wilayah ini diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat yang berlanjut
kepada Republik Indonesia.

Geografi

Kota Balikpapan memiliki wilayah 85% berbukit-bukit serta 12% berupa daerah
datar yang sempit terutama berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sungai kecil
serta pesisir pantai.
Dengan kondisi tanah yang bersifat asam (gambut) serta
dominan tanah merah yang kurang subur. Sebagaimana layaknya wilayah lain di
Indonesia, kota ini juga beriklim tropis. Kota ini berada di pesisir timur Kalimantan
yang langsung berbatasan dengan Selat Makassar , memiliki teluk yang dapat
dimanfaatkan sebagai pelabuhan laut komersial dan pelabuhan minyak.

Batas wilayah

Letak astronomis Balikpapan berada di antara 1,0 LS – 1,5 LS dan 116,5 BT –
117,5 BT dengan luas sekitar 503,3 km² dengan batas-batas wilayah sebagai
berikut:

Utara Kabupaten Kutai Kartanegara

Selatan Selat Makassar

Barat Kabupaten Penajam Paser Utara

Timur Selat Makassar

Suku bangsa

Suku asli Balikpapan adalah Suku Balik yang merupakan suku minoritas. [32][33]
Suku Balik biasanya digabungkan ke dalam Suku Paser karena dianggap serumpun
sehingga disebut Paser-Balik, padahal sebenarnya Suku Balik tidak mau serta
merta disamakan dengan Suku Paser, karena terdapat beberapa perbedaan.
Seperti
yang terjadi di kawasan Kalimantan lainnya, Suku Banjar yang datang ke
Balikpapan menyerap unsur-unsur suku lokal melalui perkawinan campur (hibrida)
dengan Suku Balik dan Suku Paser yang memunculkan komunitas Banjar-Balik.

Secara garis besar ada lima budaya dasar sukubangsa asal Kalimantan yang
disebut Rumpun Kalimantan , [34] empat di antaranya terdapat di Kalimantan Timur,
khususnya Balikpapan yaitu: Banjar, Kutai, Dayak, Paser yang biasa disingkat
Komunitas BAKUDA atau BAKUDAPA jika dihitung mencapai 31,39% populasi
(sensus tahun 2000).
Diantara keempat suku asal Kalimantan tersebut, Suku
Banjar merupakan yang terbanyak sejak masa kolonial. [35] Selain empat suku di
atas, banyak pula suku-suku asal dari pulau Sulawesi, Jawa, Sumatera, dan pulau
lainnya sehingga yang pada awal pertumbuhan kota Balikpapan setidaknya
terbentuk tiga kantong pemukiman Banjar, Jawa dan Bugis. [36]

Bahasa daerah
Bahasa daerah yang sering digunakan adalah:

1. Bahasa Paser

2. Bahasa Kutai

3. Bahasa Banjar

4. Bahasa Bugis

5. Bahasa Jawa

Umumnya bahasa yang digunakan pada keseharian warga Balikpapan adalah
bahasa Indonesia .

Pembagian Wilayah Administratif dan Pemerintahan
Kecamatan
Dengan diberlakukannya Perda Balikpapan No. 8 Thn. 2012, maka diresmikan
kecamatan Balikpapan Kota dan menambah jumlah kecamatan menjadi 6 yakni:

1. Balikpapan Timur

2. Balikpapan Selatan

3. Balikpapan Tengah

4. Balikpapan Utara

5. Balikpapan Barat

6. Balikpapan Kota